Senin, 27 Juni 2011

bentuk buku besar pembantu

Bentuk Buku Besar Pembantu

Seperti halnya buku besar, buku pembantu dapat dibuat dengan dua bentuk yang lazim digunakan yaitu: bentuk skontro dan bentuk staffel. Perhatikan format di bawah ini!
1. Buku pembantu bentuk skontro

2. Buku pembantu bentuk staffel
Setelah Anda amati format di atas, mungkin Anda bertanya, apakah cara pencatatanya sama dengan pencatatan pada buku besar?. Jawabannya ya. Perbedaannya hanya pada sumber pencatatan. Pada buku besar sumber pencatatannya adalah dari jurnal umum atau jurnal khusus, sedangkan buku pembantu sumber pencatatannya langsung dari bukti transaksi. Untuk itu dilanjutkan dengan cara pencatatan buku besar pembantu.
Cara pencatatan buku besar pembantu.
Proses pencatatan dalam buku pembantu dapat dilakukan dari bukti transaksi langsung ke dalam buku pembantu. Seperti yang dicontohkan berikut ini.

Contoh:
PD. Samahati selama bulan Juli 2000 melakukan transaksi penjualan kepada beberapa langganan sebagai berikut:
Juli 5
Dijual barang dagang secara kredit kepada Tn. Sabar Bandung dengan harga Rp 1.400.000,00. Faktur Nomor 010.
Juli 7
Dijual barang dagang Rp 1.170.000,00 kepada Toko Tiya secara kredit. Faktur Nomor 011.
Juli 8
Dijual dengan kredit barang dagang kepada Toko Sehati Medan seharga Rp 2.100.000,00. Faktur Nomor 012.
Juli 12
Dijual barang dagang dengan harga Rp 1.000.000,00 kepada Tn. Ryan Bandar Lampung dengan kredit. Faktur Nomor 013.
Juli 16
Dijual barang dagang secara kredit kepada Tn. Sabar Bandung seharga Rp 2.000.000,00. Faktur Nomor 014.
Juli 18
Diterima kembali barang dagang yang dijual tanggal 16 Juli lalu seharga Rp 400.000,00 karena tidak sesuai dengan pesanan Nota kredit Nomor 004.
Juli 22
Dijual barang dagang seharga Rp 1.100.000,00 kepada Tn. Ryan Bandar Lampung secara kredit. Faktur Nomor 015.
Juli 28
Diterima pelunasan faktur penjualan Nomor 014 tanggal 16 yang lalu dari Tn. Sabar Bandung Bukti Kas masuk 047.
Juli 29 Diterima piutang dagang dari Toko Tiya sejumlah Rp 470.000,00 Bukti Kas masuk 048.
Diminta:
Catatlah transaksi di atas dalam buku besar pembantu piutang dagang (Bentuk staffel) sebagai berikut:

1. Tn. Sabar, Jl. Merapi 22, Bandung.
2. Toko Sehati, Jl. Candrawasih 12, Medan.
3. Tn. Ryan, Jl. Menara Baru 234, Bandar Lampung.
4. Toko Tiya, Jl. Kaswari 17, Tangerang.

Keterangan:
1. Kolom tanggal : Diisi dengan tanggal transaksi.
2. Kolom keterangan : Diisi dengan faktur.
3. Kolom Referensi : Diisi dengan faktur penjualan nomor.
4. Kolom Debit : Diisi dengan jumlah piutang bertambah.
5. Kolom kredit : Diisi dengan jumlah piutang berkurang.
6. Kolom saldo : Diisi dengan selesih kolom debit dan kredit.
Apa yang perlu disiapkan untuk mencatat transaksi tersebut di atas? Bagaimana pencatatannya? Baiklah, Anda perhatikan pencatatannya berikut ini.


Mengapa pencatatan buku besar pembantu sederhana seperti di atas? Baik, apabila Anda perhatikan pencatatan buku besar pembantu sumbernya adalah dari bukti transaksi. Transaksi di atas semua berhubungan dengan penjualan barang dagang yang dilakukan secara kredit (menambah piutang dagang), retur penjualan (mengurangi piutang dagang) dan penerimaan pelunasan faktur penjualan (menguragi piutang dagang).
Analisis transaksi penjualan barang dagang secara kredit, akan dicatat dalam akun piutang dagang pada sisi debit karena harga jumlah penjualan tidak langsung diterima saat itu. Dalam pencatatannya dalam buku besar pembantu piutang atas nama masing-masing debitur perusahaan.
Begitu juga dengan buku besar pembantu utang dagang, sumber pencatatannya berasal dari transaksi pembelian yang dilakukan secara kredit, analisisnya hanya terhadap akun utang dagang bertambah akibat pembelian yang dilakukan dengan kredit yang harus dicatat di sisi kredit, akun utang dagang berkurang karena adanya transaksi retur pembelian dan transaksi pembayaran/pelunasan faktur pembelian yang jatuh tempo yang mestinya dicatat di sisi debit dalam buku besar pembantu utang dagang.
Selanjutnya akan disajikan contoh transaksi dan pencatatannya dalam buku besar pembantu utang dagang, pada PD. Samahati.
Juli 3
Dibeli barang dagang dari PD Maju secara kredit seharga Rp.800.000,00 Semarang. Faktur nomor 082.
Juli 6
Dibeli barang dagang seharga Rp 1.200.000,00 dari PT. Agung Jakarta secara kredit. Faktur nomor 028.
Juli 6
Dikirim kembali sebagian barang dagang yang dibeli tanggal 3 Juli yang lalu Rp 100.000,00 karena rusak. Nota debit 01.
Juli 7
Dibeli barang dagang Rp 600.000,00 secara kredit dari UD. Setuju Bandung. Faktur nomor 061.
Juli 10
Dibeli barang dagang secara kredit Rp 700.000,00 dari PT. Agung Jakarta. Faktur nomor 055.
Juli 12
Dibeli barang dagang Rp 400.000,00 dari UD. Jujur Jakarta dengan kredit. Faktur 063.
Juli 14
Dibeli barang dagang Rp 1.400.000,00 dari PD. Maju Semarang, secara kredit. Faktur nomor 99.
Juli 15
Dilunasi faktur pembelian nomor 082 dari PD. Maju tanggal 3 Juli yang lalu. Bukti kas keluar 08.
Diminta:
  1. Catatlah transaksi di atas ke dalam buku besar pembantu utang dagang atas nama:
    1. PD. Maju, Jl. Paus 18, Semarang.
    2. PT. Agung, Jl. Baru 28, Jakarta.
    3. UD. Setuju, Jl.Melati 61, Bandung.
    4. UD. Jujur, Jl. Mandiri 10, Jakarta.
  2. Gunakan format yang telah disediakan berikut ini!



Berdasarkan contoh di atas, buku besar pembantu piutang dibuat sebanyak 4 buah. Mengapa demikian? Karena buku pembantu piutang disiapkan sebanyak debitur perusahaan (PD. Samahati). Begitu juga buku besar pembantu untuk utang dagang disiapkan sebanyak 4 buah karena kreditur perusahaan jumlahnya juga 4. Jadi semakain banyak langganan debitur/ kreditur maka semakin banyak pula buku besar pembantu yang harus disiapkan.
Nah, apakah Anda sudah mengusai cara pencatatan dalam buku besar pembantu tadi? Baiklah untuk menambah penguasaan Anda maka kerjakanlah latihan yang di bawah ini.
Diminta:
1. Gunakanlah format yang tersedia berikut ini!
2. Catatlah transaksi berikut ke dalam buku besar pembantu utang dan buku besar pembantu piutang!
3. Transaksi berikut selama bulan Januari 2000, pada PD. Baik Hati, Jl.Rajawali IV/122 Jakarta.
Juli 4
Dibeli barang dagang Rp 1.500.000,00 dari PT. Sabar secara kredit. Faktur nomor 21.
Juli 5
Dibeli barang dagang dengan kredit Rp 1.750.000,00 dari PT. ABC Jakarta. Faktur nomor 28.
Juli 6
Dijual barang dagang Rp 1.200.000,00 secara kredit kepada Tn. Ryan, Jakarta. Faktur nomor 08.
Juli 7
Dikirimkan kembali barang dagang seharga Rp 400.000,00 yang dibeli tanggal 4 Januari yang lalu. Nota debit 01 karena rusak.
Juli 8
Dijual barang dagang kepada Ny.Elvi RA, Jakarta Rp 1.000.000,00 secara kredit. Faktur nomor 09.
Juli 8
Dijual barang dagang Rp 1.800.000,00 kepada Tn. Ryan secara kredit, Jakarta. Faktur nomor 010.
Juli 9
Dijual barang dagang Rp 1.650.000,00 dengan kredit kepada Ny. Elvi RA, Jakarta. Faktur nomor 011.
Juli 12
Dibeli barang dagang dari PT. ABC, Jakarta Rp 2.000.000,00 dengan kredit. Faktur nomor 76.
Juli 16
Dilunasi faktur pembelian nomor 21 tanggal 4 Januari yang lalu kepada PT. Sabar.
Juli 18
Dibeli barang dagang dari PT. Maju Jakarta Rp 1.000.000,00 dengan kredit. Faktur nomor 51.
Juli 19
Dijual barang dagang kepada Sdr Nurul, Jakarta secara kredit Rp.1.500.000,00. Faktur nomor 012.
Juli 20
Dijual barang dagang kepada Tn. Heppy, Jakarta Rp 1.000.000,00 secara kredit. Faktur nomor 013.
Juli 21
Dibeli barang dagang Rp 700.000,00 dari PT. Sabar secera kredit, Jakarta. Faktur nomor 44.
Juli 22
Dijual kepada Sdr Nurul barang dagang secara kredit Rp. 200.000,00. Faktur nomor 014.




Bagaimana latihan yang anda kerjakan? Apakah menemui kesulitan? Apabila Anda dengan teliti memperhatikan contoh di atas tadi, mudah-mudahan Anda tidak mengalami kesulitan mengerjakannya. Namun demikian untuk memeriksa hasil pekerjaan Anda tersebut, maka dapat Anda cocokkan dengan jawaban yang tersedia berikut ini!
Jawaban Latihan 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar